Ellyas Pical Seorang Pahlawan yang Terlupakan

Legenda Tinju Indonesia, Ellyas Pical mendapatkan penghargaan Life Time Achievement pada Minggu malam lalu 17 April 2011 pada acara gelar tinju yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi dan terima kasih atas pengabdian beliau selama menjadi atlit tinju professional Indonesia yang pernah mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional…
Terlihat wajah Ellyas Pical sangat bahagia sekaligus terharu menerima penghargaan yang khusus ditujukan untuknya itu dan dia secara tidak langsung dianggap sebagai pahlawan…

Kenyataan ini sungguh menyedihkan mengingat apa yang sebenarnya dialami oleh Ellyas Pical, karena dia telah mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional dengan berjuang sebagai petinju profesional tetapi baru saat inilah dia diberikan apresiasi layaknya seorang pahlawan. Karena sebelumnya, dia terlupakan dan hanya menjadi seorang satpam. Mengapa baru sekarang pemerintah menghargai jasa – jasanya?

Ellyas Pical merupakan salah satu petinju profesional Indonesia yang dalam masa life timenya pernah mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional sama seperti petinju Chris John, hanya saja Ellyas Pical harus merasakan keterpurukan sebagai seorang Pahlawan yang Terlupakan tidak seperti Chris John yang kaya raya saat ini.
Ellyas Pical memulai menggeluti olahraga Tinju sejak berusia 13 tahun dengan berlatih sembunyi – sembunyi dikarenakan dilarang oleh kedua orangtuanya. Beliau memang benar – benar berkeinginan untuk menjadi seorang petinju profesional, sehingga meskipun dilarang oleh kedua orangtuanya, beliau tetap memulai karirnya sebgai petinju dengan bermain amatir diberbagai pertandingan tingkat daerah, mulai dari tingkat kabupaten hingga kejuaraan Piala Presiden. Dan hampir keseluruhan dari pertandingan yang diikuti beliau sebagai petinju amatir, beliau kerap kali menjadi juara.

Berdasarkan seringnya beliau memenangkan pertandingan kelas terbang tersebut, beliau mulai merasa bahwa jalannya mungkin memang di jalur tinju, beliau kemudian memulai karir profesionalnya pada tahun 1983 dalam kelas bantam junior. Ketika beliau memulai karirnya sebagai petinju profesional, berturut – turut sederet prestasi tingkat dunia diraihnya, seperti juara OPBF setelah mengalahkan petinju asal Korea Selatan, Hi-yung Chung pada tanggal 19 Mei 1984 di Seoul, Korea Selatan, dengan kemenangan angka 12 ronde.
Atas kemenangan inilah, Pical menjadi petinju profesional pertama dari Indonesia yang berhasil memenangkan gelar Internasional di luar negeri. Pukulan hook dan uppercut kirinya yang terkenal cepat dan keras itu, membawa Pical ke puncak popularitas. Oleh media massa, pukulan tersebut dijuluki “The Exocet”, diambil dari nama rudal Perancis yang digunakan oleh Inggris pada perang
Malvinas yang tengah berkecamuk pada masa itu.

Menyusul kemenangan pertama tersebut, beliau pun kembali memenangkan pertandingan kelas internasional dari pertandingannya melawan petinju Korea Chun Ju-do, juara bertahan IBF kelas super terbang di Jakarta pada tanggal 3 Mei 1985, atas kemenangannya ini beliau dinyatakan sebagai juara baru IBF. Tetapi setelah berhasil mempertahankan gelar juara IBF dengan melawan petinju Australia, Wayne Mulholland pada tanggal 25 Agustus 1985, beliau harus mengakui keunggulan petinju Republik Dominika, Caesar Polanco dengan kekalahan angka di Jakarta. Namun beliau mampu membalas kekalahannya tersebut dengan tak tanggung – tanggung memukul KO Polanco pada pertandingan kedua di Jakarta, 5 Juli 1986.

Terlihat bahwa beliau memang memiliki semangat dan kemampuan sebagai petinju profesional Indonesia.

Kemudian beliau harus mempertahankan gelarnya sebagai juara IBF dengan melawan penantang dari Korea Selatan, Dong-chun Lee dan behasil memenangkan pertandingan tersebut. Tak lama setelah mempertahankan gelarnya dari Dong-chun Lee, beliau ternyata harus menyerahkan gelarnya kepada petinju Thailand, Khaosai Galaxy dengan KO pada ronde 14, pada tahun 1987.

Kekalahannya ini sempat membuatnya depresi berbulan-bulan, tetapi kemudian beliau dapat bangkit dan merebut kembali gelar juara IBF, yang pada saat itu ternyata telah dipegang oleh juara bertahan Tae-ill Chang, petinju asal Korea Selatan. Beliau sempat mempertahankan gelar juaranya sampai 2 tahun, hingga akhirnya beliau harus menyerahkan gelarnya kembali yang kali ini dalam pertandingannya melawan petinju Kolombia, Juan Polo Perez setelah kalah angka yang dilaksanakan di Ronoake, Virginia pada tanggal 4 Oktober 1989.
Setelah kekalahannya dari Perez, beliau sedikit demi sedikit menyingkir dari ring tinju, mungkin dikarenakan pergumulan batinnya atau hilangnya kepercayaan promotor terhadap beliau. Kekalahannya dari Perez seakan membuatnya kehilangan kemampuannya bertinju dan pada titik inilah dianggap sebagai akhir dari karir beliau sebagai petinju profesional Indonesia.                                                Beliau tidak lagi terdengar mengikuti pertandingan untuk merebut gelar juara, meskipun setelah kekalahannya itu, beliau sempat bertanding non-gelar sebanyak 3 kali yang entah tidak diketahui dari ketiga pertandingan tersebut beliau menang atau tidak.

Nama beliau kemudian benar – benar tidak terdengar lagi semenjak itu, dan beberapa tahun terakhir ini didapatkan kabar ternyata beliau yang tidak lulus SD ini bekerja sebagai petugas keamanan (satpam) di sebuah diskotik di daerah Blok M, Jakarta. Kemudian didapatkan kabar bahwa beliau ditangkap pada 13 Juli 2005 oleh polisi karena melakukan transaksi narkoba di sebuah diskotik. Penangkapannya sempat dikritik dari berbagai pihak yang menganggap tiadanya perhatian dari pemerintah kepada atlit yang telah mengharumkan nama negara Indonesia yang bahkan telah dapat dianggap sebagai pahlawan negara ini.

Apakah adil jika seorang pahlawan yang pernah mengabdikan dirinya untuk negara ini ternyata hidupnya jauh dari yang seharusnya, tidak dihargai dan terpuruk seolah – olah beliau tidak pernah melakukan apapun bagi negara ini. Sedangkan sepanjang karir profesionalnya, beliau telah menyumbangkan 20 kemenangan dengan 11 KO untuk Indonesia – untuk Indonesia!                                     Bukan simbol negara lain yang  dipasangkan di kostumnya, bukan nama negara lain yang dia ucapkan dan elukan disetiap kemenangannya dan bukan untuk negara lain dia berjuang dan mengabdi – tetapi untuk negara kita, negara Indonesia yang seolah – olah malah acuh tak acuh ketika beliau terpuruk.

Beliau oleh karena kesalahannya itu terpaksa mendekam dipenjara setelah divonis 7 bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Apakah adil dengan kenyataan seperti itu? Meskipun memang beliau dipenjara karena ulah sendiri, tetapi itu pada dasarnya dikarenakan tiadanya jaminan hidup dari pemerintah untuk menanggung hidup beliau. Kalau pemerintah setidaknya sedikit menghargai jasa – jasa beliau dengan membantu berlangsungnya hidup beliau, pastilah seorang Ellyas Pical – seorang pahlawan negara tidak akan menikmati masa tuanya hanya menjadi seorang satpam dan menjual narkoba demi mencukupi kehidupan beliau dan keluarganya.

Dan anehnya, hampir semua pahlawan negara terutama atlit dan seniman yang pernah mengharumkan nama Indonesia dikancah Internasional hidupnya memang ditemukan sama seperti kehidupan Ellyas Pical – hidup dalam kekecewaan dan kekurangan dan mati dalam keterpurukan.

Apakah ini memang ciri khas dari negara kita, menghargai disaat kejayaan diraih tetapi dengan segera melupakan dengan mudahnya saat sinarnya meredup? Ataukah ini memang cara hidup yang seharusnya diterima oleh para pahlawan kita? No sense!
Seharusnya kita semua – bukan hanya pemerintah dapat memberikan apresiasi yang lebih terhadap mereka semua yang telah berjuang dan mengabdikan diri bagi Indonesia, disaat mereka berjaya dan juga disaat mereka terpuruk – karena nyatanya setiap manusia memang memiliki masanya sendiri – sendiri yang sifatnya tidak abadi, ada masanya untuk menang dan berjaya dan ada masanya untuk mengakui kekalahan dan memberikan kesempatan kepada generasi selanjutnya.

Atau apakah memang di Indonesia ini, seorang pahlawan harus selalu tetap berjaya dan menang baru boleh mendapatkan pengakuan dan penghargaan? Karena kalau seperti itu, lebih baik masing – masing dari kita, warga negara berjuang untuk diri sendiri daripada untuk mengabdi kepada negara karena akan percuma dan membuang – buang waktu saja atau mungkin pemikiran paling jenius adalah berjuang untuk nama negara lain.

Memang berkesan sarkastis tetapi lebih baik daripada mengabdi dengan percuma.
Kita bisa belajar dari perilaku negara lain yang sering memperlihatkan betapa dihargainya seorang atlit entah dalam bidang olahraga apapun, para atlit difasilitasi dengan sangat layak dan diberikan berbagai kemudahan dalam hidupnya dengan tetap menganggap sama sebagaimana warga negara diperlakukan oleh negara. Sehingga dengan kehidupan yang terjamin, para atlit dapat memfokuskan diri untuk mempersiapkan dan memberikan yang terbaik demi berjuang bagi negara.

Negara mendapatkan kehormatan dan sebaliknya para atlit juga mendapatkan kebahagiaannya dalam kehidupan dan perjuangan sehingga dalam setiap pemikiran mereka, menjadi pahlawan bagi negara adalah cita-cita mereka dan mengharumkan nama negara adalah misi mereka yang harus terlaksana.
Jika begitu, maka tidak ada lagi kasus yang menyedihkan seperti Ellyas Pical dan yang lainnya – ingat bahwa Ellyas Pical hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak atlit dan para seniman atau pahlawan negeri ini dalam berbagai bidang lainnya.

Sesaat setelah hitungan ke-10 suasana di seputaran ring penuh sesak dengan orang. Saya sampai kebingungan. Tidak sia-sia persiapan setahun yang saya lakukan bersama Kairus Sahel di sasana Garuda Jaya. Air mata saya baru bisa keluar saat berkumpul bersama keluarga besar yang saya datangkan dari Ambon. Saya benar – benar merasa bangga bisa mengangkat nama bangsa dan negara di arena tinju dunia !” demikian tutur Ellyas Pical setelah hook kirinya menjatuhkan Ju Do Chun di ronde ke-8 dari 15 ronde yang direncanakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s