Facebook Addict

Facebook (dibaca : pesbuuk) : merupakan salah satu zat adiktif  yang tidak terlalu berbahaya yang dapat membuat sang pengguna merasa ketagihan dan “kegatelan”. Mengandung zat hormon adiktif golongan ke dua – zat adiktif golongan pertama belum teridentifikasi – dan penggunanya tercatat jumlahnya melebihi separuh dari jumlah umat manusia didunia ini. Efek samping : Malas makan, malas tidur, malas mandi, bengong sendiri, senyum-senyum sendiri dan sebagainya silahkan anda definisikan sendiri menurut pengalaman anda.

Definisi diatas memang hanyalah sebuah lelucon semata, tapi sadarkah kita – saya dan anda – sengaja atau tidak, kita telah memperlakukan Facebook sebagai barang yang membuat kita ketagihan dan harus menggunakannya secara kontinu. Atau mungkin malah kita yang diperdaya oleh Facebook itu sendiri?

Menurut pengamatan dari berbagai sumber, dalam 2 tahun terkhir ini situs Facebook disebut-sebut sebagai salah satu top rated site bukan hanya di Indonesia tapi diseluruh dunia, mengalahkan situs-situs jejaring sosial yang lainnya. Disatu sisi ini memang merupakan prestasi yang patut dibanggakan tapi disisi yang lainnya ini adalah suatu dilema baru bagi kita semua. Mengapa begitu? Karena tercatat bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna Facebook terbanyak dengan peningkatan jumlah yang drastis, bahkan teramat drastis. Ini saya katakan adalah suatu dilema karena mengingat bahwa Indonesia juga masih tetap menempati peringkat Negara termiskin di dunia dengan catatan dalam 5 tahun terakhir ini, Indonesia sama sekali tidak menunjukkan adanya peningkatan dalam perekonomiannya. Betapa ironisnya bahwa salah satu negara termiskin didunia ternyata tanpa disadari sangat antusias dan aktif dalam aktivitas dengan Facebook.

Saya bukanlah seorang yang anti-Facebook atau jejaring sosial yang lain – saya pun juga memiliki beberapa akun di hampir semua jejaring sosial yang ada -, saya hanyalah prihatin dengan bagaimana cara kita (saya dan anda) semua menyikapi Facebook dalam kehidupan nyata kita sehari-hari. Saya hanya prihatin atas betapa antusiasnya masyarakat dalam menggunakan Facebook. Ke-antusias-an yang tidak pada tempatnya. Masyarakat seakan terlalu mengagung-agungkan keberadaan Facebook itu sendiri. Masyarakat tanpa sadar merasa ketagihan untuk menggunakan Facebook. Padahal apabila kita menilik apa tujuan dari masing-masing individu dalam menggunakan Facebook, hanya 1 dari 10 orang yang memiliki tujuan yang dapat diterima akal positif kita. Dan selebihnya, hanya untuk tujuan mencari dan menambah teman, bermain game Facebook online, hanya untuk asyik-asyikan saja atau mungkin kasus lain, beberapa orang menggunakan Facebook hanya untuk dianggap keren dan sebagai syarat dalam bergaul. Mereka menganggap yang tidak mempunyai Facebook itu ketinggalan jaman/gaptek. Ada juga yang lebih parah, beberapa orang menggunakan Facebook sebagai alat untuk berbuat kejahatan, semacam penipuan, pencemaran nama baik atau penculikan.

Selanjutnya, yang membuat saya prihatin adalah bagaimana cara kita semua memperlakukan Facebook dalam kehidupan kita sehari-hari. Terlalu melebih-lebihkan. Saya merasakannya sendiri bagaimana perlakuan saya -yang padahal untuk alasan yang tidak penting- saya membuang-buang waktu saya, berjam-jam duduk didepan komputer hanya untuk mengobrol, balas membalas wall dan main game online bersama teman Facebook saya, yang saya juga sebenarnya tidak mengenal siapakah orang itu, bagaimanakah dia dan apa tujuannya berteman Facebook dengan saya, apakah itu tujuan baik atau jahat saya pun tidak tahu. Saya tidak memikirkan berbagai macam resiko dan kerugian yang akan saya hadapi, yang saya pikirkan hanya kesenangan saya saat ber-Facebook ria.

Dan setelah saya merasakan bosan dan jenuh saya baru menyadari bahwa saya telah banyak membuang waktu, yang sebenarnya dapat saya pergunakan untuk hal-hal positif yang lebih berguna, hemat uang dan hemat tenaga.

Ber-Facebook ria juga merupakan bentuk penyia-nyiaan kemampuan, yang sebenarnya kita dapat menggunakan waktu, uang, tenaga, pikiran dan semangat kita untuk berkarya, kita hanya menghabiskan semua itu untuk duduk berjam-jam balas-membalas wall dan chat. Mungkin anda bertanya tetapi bagaimana kalau saya  dapat berkarya dan melakukan hal yang penting dengan ber-Facebook ria? Saya tantang anda untuk membuktikan hal itu kepada saya. Karena sejauh pengetahuan dan pengalaman saya selama ini -dengan merasakan perilaku diri sendiri dan perilaku teman-teman- melakukan hal yang positif dan penting sambil ber-Facebook ria itu SULIT.

Maka mari kita yang bijaksana dapat berperilaku yang wajar dan bijaksana dalam menggunakan Facebook sebagai jejaring sosial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s