Cap Go Me – Perayaan Kembalinya Para Dewa

Hari ini tanggal 17 bulan 2 tahun 2011, telah terhitung 2 minggu setelah Tahun Baru Imlek. Dalam kepercayaan
etnis Tionghoa, hari ini adalah perayaan Cap Go Me.
Dalam perjalanan pulang dari rumah saudara, saya merasakan hal yang tidak biasa dengan kondisi jalan yang biasa saya lewati. Tidak biasanya terjadi macet yang benar-benar macet di jalan yang saya lalui. Awalnya saya juga tidak curiga karena kebetulan memang waktu itu saya hendak menjumpai lampu merah persimpangan jalan. Tapi ketika saya hampir dekat dengan persimpangan, saya mendengar alunan alat musik tradisional yang terdengar familiar di telinga saya. Saya pun mulai curiga, perlahan-lahan saya mendekati persimpangan dan akhirnya saya tahu apa yang sedang terjadi. Sedang berlangsung arak-arakan yang cukup meriah. Arak-arakan itu sepertinya berlangsung kontinu dalam beberapa rombongan.

Rombongan pertama yang saya lihat, menampilkan
kesenian tradisional reog ponorogo dengan alunan musik pengiring yang khas dengan alat musik sejenis terompet. Sang singa berbulu merak (reog) menari-nari dengan leluasa di jalan, seolah hendak membuat kagum para penonton – dan memang dia berhasil. Si reog berlalu dan rombongan berikutnya terlihat. Berseragam, saling bersatu padu memainkan alat musik modern dan membawa spanduk bertuliskan “Marching Band Sekolah Ananda”. Di sesi ini baru saya juga menyadari bahwa arak-arakan ini memakan seluruh badan jalan, sehingga arah jalan saya dialihkan ke badan jalan yang satunya lagi yang berlawanan arah.
Terlihat juga beberapa Bapak – Ibu Polisi sedang mengatur lalu lintas juga sambil menikmati tontonan yang ditampilkan oleh arak-arakan.
Memang jadi sangat agak tersendat perjalanan saya karena arak-arakan ini, tapi saya harus tetap melanjutkan perjalanan.
Tetapi rombongan berikutnya dari arak-arakan itu, benar-benar membuat saya tertarik dan berniat menghentikan perjalanan sesaat demi menonton. Rombongan berikutnya terlihat lebih banyak pengiringnya daripada sebelumnya.
Perhatian kepada rombongan ini bertitik pusat di orang-orang yang memakai kostum berwarna merah dan membawa benda dengan cara menggoyang-goyangkannya. Apa yang mereka bawa?
Sebuah tandu. Tandu – tandu yang digunakan pada zaman kerajaan untuk membawa bangsawan dalam perjalanan. Tapi bedanya tandu yang dibawa di arak-arakan itu lebih kecil untuk cukup menampung orang dan lebih berkesan berlebihan karena sekelilingnya ditancapkan rapi bunga-bunga warna-warni. Tandu tersebut dipikul oleh beberapa orang, tetapi cara mereka membawanya sembari digoyang-goyangkan dengan kencang, yang disatu sisi seolah mereka hendak melakukan tarian dan disisi lain seolah mereka sedang ancang-ancang hendak melemparkan tandu itu jauh-jauh. Saya bertanya-tanya kenapa begitu cara mereka membawa tandu? Seketika itu juga, ibu saya segera menjelaskan kepada saya bahwa ternyata tandu itu tidak digoyang-goyangkan secara sengaja tetapi memang tandu itu bergoyang kencang sendiri. Aneh bukan? Saya pun masih tidak percaya dan penasaran sampai saat ini. Ketika saya tanya lebih lanjut, ibu saya menjelaskan bahwa didalam tandu tersebut diletakkan patung para dewa. Masing-masing tandu satu patung. Entah itu patung sang Buddha, entah itu patung Tentara Perang (yang disebut Kwan Kong) atau sebagainya. Dan memang rombongan pembawa tandu inilah yang menjadi tujuan utama dan puncak acara dari arak-arakan itu. Arak-arakan itu memperingati hari raya Cap Go Me, perayaan 2 minggu setelah tahun baru Imlek. Menurut kepercayaan, 2 minggu sebelum tahun baru Imlek, para dewa naik ke khayangan untuk melaporkan semua yang telah terjadi selama 1 tahun, melaporkan kepada Tuhan Yang Mahakuasa mengenai amal kebaikan dan dosa yang telah diperbuat oleh manusia. Tindakan itu dilakukan layaknya laporan tahunan menandakan pergantian tahun.
Nah, setelah 2 minggu berada di khayangan, para dewa pun harus kembali lagi ke bumi untuk memantau dan mengatur kembali dunia. Dan manusia, sebagai wujud rasa terima kasih, mengadakan perayaan kepulangan para dewa ke bumi. Setiap dewa ditandu dan diarak mengelilingi bumi, dan untuk menyenangkan para dewa, manusia juga melakukan berbagai atraksi dan pertunjukkan
yang meriah. Begitulah kisah yang menjadi dasar dari perayaan tandu itu. Saya memperhatikan bahwa orang-orang berebut untuk memikul tandu-tandu yang diarak. Para pria dewasa, ibu-ibu dan juga para remaja berebut untuk mendapatkan giliran memikul tandu. Dan menurut kepercayaan, orang-orang yang mendapatkan kesempatan untuk memikul tandu itu, akan mendapatkan berkah yang luar biasa sepanjang tahun. Apa benar? Saya juga tidak tahu, karena saya belum mencoba. Tapi sepertinya memang benar begitu, karena kenyataannya dari jaman dahulu sampai sekarang orang-orang masih banyak yang berebut untuk memikul tandu apabila perayaan Cap Go Me dilaksanakan.
Rombongan pemikul tandu bukan hanya dikelilingi oleh para pengiring tetapi juga diiringi oleh atraksi Barongsai dan Liong (Naga) yang menambah semaraknya suasana perayaan. Ini sangat menarik apalagi ketika saya melihat bahwa ternyata para wanita juga berpartisipasi menampilkan atraksi. Ini adalah hal yang tidak biasa – luar biasa. : )
Rombongan terakhir merupakan atraksi kostum suku Dayak, para pelaku atraksi mengenakan kostum asli suku Dayak lengkap dengan perisai dan goloknya dan juga mereka melakukan tarian bertarung yang memesonakan mata. Tetapi anehnya ada adegan mereka menirukan gaya Indian, hal itu membuat saya sedikit berkomentar.
Arak-arakan hampir berakhir, ketika saya melihat lagi rombongan yang membawa tandu juga tetapi berbeda keadaannya dari tandu-tandu sebelumnya. Tandu yang rombongan ini tidak dihiasi bunga, dan tanpa “goyangan” bahkan sepertinya sang pemikul tandu terlihat sangat kelelahan dan pasrah. Dan lagi-lagi ibu saya yang menjawab rasa penasaran saya, ternyata tandu-tandu itu juga awalnya sama seperti pendahulunya, tapi mungkin bunga-bunganya sudah dicabutin satu persatu oleh para pengiring atau yang cuma yang sekedar nonton. Yang mengambil bunga-bunga itu percaya bahwa bunga yang mereka ambil adalah juga pemberian dewa yang menjadi berkah bagi mereka. Biasanya bunga-bunga itu dipajang dirumah, diletakkan di tempat kerja atau terkadang digunakan untuk mandi.
Arak-arakan pun berakhir dan para polisi bersiap mengembalikan kondisi lalu lintas ke semula. Arak-arakan itu memberikan kesan yang luar biasa bagi saya, entah kenapa setiap melihat arak-arakan seperti itu, hati saya selalu merasa kagum dan bahagia.

Dan satu lagi, ketika arak-arakan tengah berlangsung ada yang membawa spanduk yang ditopang dengan tongkat agar semua orang dapat melihat dan membaca tulisan di spanduk itu. Bunyinya begini ; “Mari tingkatkan kesatuan dan persatuan dalam persaudaraan. Perayaan Cap Go Me tahun baru Imlek 2562…” Tulisan dari spanduk itu seakan menasehati kita dengan apa yang sebenarnya telah terjadi, dimana masih teramat besar batu penghalang
yang menghalangi persatuan semua ras, suku atau etnis di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s