Mottainai – Akar Budaya dan Filsafat Pemikiran yang Hampir Terlupakan

Kata “Mottainai” mungkin sudah sangat akrab di telinga penduduk Jepang terutama para tetua generasi terdahulu.
Karena kata ini sering diucapkan ketika ingin mengungkapkan rasa penyesalan terhadap suatu kejadian atau aktivitas yang bersifat
pemborosan atau penyia-nyiaan. Mottainai sejatinya bukan hanya sekedar sebuah kata, tetapi juga menjadi sebuah filosofi kehidupan dan akar budaya yang sengaja
dipelihara turun-temurun oleh para penduduk negeri Sakura ini. Dan bukan hanya itu, Mottainai yang sebagai akar budaya juga memberikan kontribusi yang besar bagi Jepang.
Tapi seiring berjalannya waktu, filosofi dan akar budaya ini pun sedikit demi sedikit tergerus dan hampir terlupakan dengan derasnya arus modernisasi dunia.
Mungkin filosofi ini masih dapat ditemukan praktik konkritnya di keluarga-keluarga yang menjunjung tinggi dan menghormati para leluhur.

Berikut adalah contoh nyata bentuk kebudayaan bangsa Jepang yang menentang tindakan Mottainai;

1. Jika anda mampu berbicara dalam tiga bahasa dengan fasih atau jika anda mahir melukis sketsa wajah tetapi tidak bisa mendapatkan pekerjaan menggunakan
keterampilan-keterampilan anda tersebut, maka anda dianggap menyia-nyiakan talenta anda. Jadi setiap orang harus dapat menggunakan keterampilan/talenta yang dimiliki
untuk menghasilkan kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain.

2. Orang Jepang menganggap jelek apabila kita tidak menghabiskan makanan yang telah kita ambil dalam piring mangkuk kita. Orang Jepang menganggap ini adalah suatu pemborosan
yang sangat tidak boleh karena mereka menganggap setiap butir beras adalah produk dari tenaga petani, suatu buah karya yang penuh cinta kasih dan kerja keras. Itulah sebabnya mereka harus
menghabiskan sampai butir nasi yang terakhir sebagai ungkapan terima kasih.

3. Jika orang Jepang makan ikan, daging atau telur, mereka beranggapan bahwa mereka telah melibatkan kehidupan makhluk lain agar tetap bertahan hidup. Maka kita tidak boleh menyia-nyiakan kehidupan makhluk lain
yang telah rela mengorbankan hidupnya demi keberlangsungan hidup manusia. Karena itu sejak lampau, bangsa Jepang sudah memasak dan memakan ikan secara keseluruhan, mulai dari kepala, tulang-tulang, kulit dan isi perut ikan.
Akar budaya ini masih bertahan sampai hari ini tetapi hanya di desa-desa nelayan kecil.

4. Zaman dahulu bangsa Jepang menggunakan benda bernama “Furoshiki” yang digunakan sebagai pembungkus. Furoshiki adalah sepotong kain berbentuk bujur sangkar  yang dapat membungkus dengan variasi yang tak terbatas tergantung
kepada imajinasi kita menggunakannya. Dapat dijadikan sebagai kantong maupun ransel. Benda ini dinilai sangat ekologis dan mudah dibentuk dibandingkan menggunakan kertas atau tas plastik.
Dewasa ini, 60 persen dari sampah yang terbuang di Jepang terdiri atas pembungkus dari bahan kertas atau plastik yang dapat mencemarkan lingkungan.

5. Osagari. Ini merupakan kata dalam bahasa Jepang yang berarti “hands-me-down”. Dahulu bermula dari keadaan dimana pakaian milik kakak perempuan itu diturunkan ke adik perempuannya. Hal ini bukan hanya
berkenaan dengan hal “penghematan” saja tetapi juga adalah suatu cerminan kebiasaan kita untuk menggunakan kembali (re-use) barang-barang yang masih bermanfaat. Tetapi kebiasaan ini kini hampir dilupakan.

6. Kimono – pakaian tradisional Jepang – adalah pakaian yang dapat di wariskan (re-use). Begitu sudah tidak dipakai, maka barang tersebut akan diwariskan sampai ke beberapa generasi berikutnya. Oleh karena itu, Kimono menjadi benda yang sangat berharga.
Diketahui kemeja Hawaii Aloha mempunyai asal muasal dari Kimono. Ketika sebagian orang Jepang bermigrasi ke Hawaii sekitar 80 tahun yang lalu, mereka menjahit kembali Kimono ke dalam sehelai kemeja yang terlihat gaya untuk menyesuaikan dengan iklim setempat.

7. Dahulu di Jepang setiap anak sekolah mempunyai alat pemegang pensil yang sudah pendek, yang dapat memungkinkan kita untuk menggunakan pensil sampai benar-benar habis. Hal ini mengajar kita untuk tidak menyia-nyiakan sesuatu sekecil apapun itu.

8. Toilet-toilet di Jepang menggunakan suatu saluran tertentu, agar air yang telah digunakan untuk mandi dapat digunakan kembali untuk menyiram toilet. Agar dapat menghemat penggunaan air di lingkungan.

9. Kamar tamu di Jepang biasanya mempunyai jendela yang besar menghadap ke Selatan. Agar dapat dimanfaatkan sebagai penerangan alami ketika kita membaca buku, surat kabar atau barangkali menulis surat. Sehingga dapat menghemat bahan bakar penggerak istrik.
Jika ini dilakukan oleh seluruh orang di dunia, bayangkan berapa ton bahan bakar yang dapat dihemat?

Pada masa modernisasi sekarang ini, semangat Mottainai semakin terlupakan dan hilang, yang menimbulkan berbagai permasalahan bagi bangsa Jepang.
Permasalahan yang dihadapi bangsa Jepang atas hilangnya semangat Mottainai, antara lain:

1. Bangsa Jepang menggunakan 25 milyar chopsticks yang dibuang dalam satu tahun.
Sekitar 96 persennya diimport dari Negeri China.
Dengan jumlah yang sama dari kayu potong yang dibutuhkan untuk membuat chopsticks tersebut, maka kita bisa membangun 17,000 unit perumahan dengan ukuran rata-rata.

2. Di restoran-restoran  Jepang sejumlah besar makanan terbuang-buang setiap hari. Kedai 24 jam menyingkirkan kotak-kotak makan siang (bento) dan produk-produk makanan kadaluarsa tiga atau empat kali satu hari.
Satu restoran rata-rata membuang rata 13 kg dari makanan yang tak terjual setiap hari, dan di Jepang kira-kira terdapat  40.000 toko. Hal ini membuat 520 ton makanan dibuang setiap hari.
Bagaimana mungkin kita bisa membenarkan Mottainai macam ini ketika setiap hari ada 17.000 orang mati disebabkan kelaparan di seluruh dunia?

3. Setiap tahun $80 milyar diperlukan untuk mengamankan anak-anak dengan makanan atau minuman bergizi di negara-negara berkembang.
Tetapi sebaliknya, jumlah uang yang dihabiskan untuk belanja militer di seluruh dunia adalah 10 kali jumlah itu.

Mungkin setelah membaca postingan ini, kita sebagai warga dunia harus mengintrospeksi apa yang telah kita perbuat selama ini terhadap diri sendiri dan lingkungan. Apakah kita sudah melakukan tindakan perlawanan
terhadap “penyia-nyiaan” seperti bangsa Jepang?? Ataukah selama ini kita hanya dapat memboros-boroskan sesuatu mengikuti arus modernisasi?  Ini saatnya kita berubah untuk menghargai dan mencintai lingkungan sebelum
segala sesuatunya hancur didepan mata kita.

Dikutip dari http://nuryadinm.co.cc

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s