Sokushinbutsu – Budaya Mumifikasi Jepang yang Dilarang

Sokushinbutsu merupakan salah satu budaya Jepang yang dapat dikatakan unik sekaligus mengandung misteri.
Pelaksanaan dan pengembangan budaya ini khususnya tersebar dibagian utara Jepang, yang seluruhnya dipraktekan oleh para biarawan/biarawati. Pelaksanaan budaya Sokushinbutsu dilakukan berdasarkan salah satu bentuk ajaran Buddha Kuno di Jepang, yang bernama Shugendo.



Ajaran Shugendo menuntun para penganutnya untuk mendapatkan pencerahan demi kesempurnaan melalui hukuman fisik/menyiksa diri sendiri.
Para biarawan menyiksa dirinya sendiri, mati dan mengawetkan dirinya sendiri dalam usaha penyangkalan diri. Dengan jalan tersebut, para penganut percaya mereka akan memperoleh kedudukan mulia di surga.

Budaya ini dipelopori lebih dari 1000 tahun yang lalu, oleh seorang biarawan bernama Kuukai di kompleks candi Gunung Koya, Prefektur Wakayama. Kuukai adalah pendiri dari sekte ajaran Shingon Buddhisme (yang pada akhir ini dikenal dengan Shugendo).
Tujuan utama ajaran atau budaya ini adalah tercapainya mumifikasi sempurna.
Ada 3 langkah dalam proses mumifikasi:

1. Langkah pertama adalah perubahan pola makan / diet. Para biarawan dalam jangka waktu 1000 hari / 3 tahun diharuskan untuk hanya makan kacang-kacangan dan biji-bijian yang ditemukan di sekitar kuil. Diet ini harus ketat dalam jangka waktu
yang ditentukan. Selama melakukan diet ini, para biarawan pun harus menjalani segala macam kesulitan fisik dalam kesehariannya. Yang bukan berarti, mereka ber-diet makanan, mereka juga ber-diet aktivitas.
Aktivitas yang sehari-hari mereka lakukan harus tetap dilakukan, bahkan tingkat intensitasnya ditingkatkan. Dengan langkah ini, lemak tubuh para biarawan akan terkuras habis, sehingga tubuh akan terurai dengan mudah setelah kematian.

2. Langkah selanjutnya setelah para biarawan mencapai kesuksesan dalam diet langkah awal, dilanjutkan dengan diet yang lebih ekstrim. Para biarawan hanya diizinkan untuk makan sejumlah kecil kulit dan akar pohon pinus yang telah dikeraskan selama 1000 hari sebelumnya.
Dapat dibayangkan betapa menderitanya para biarawan tersebut. Lebih lagi para biarawa, diharuskan untuk meminum teh khusus yang dibuat dari getah pohon Urushi. Diketahui getah ini biasa digunakan untuk membuat pernis untuk mangkuk dan meubel. Teh ini sangat beracun, dapat menyebabkan
yang meminum teh ini muntah-muntah, berkeringat dan buang-buang air kecil, sehingga dapat mengurangi bahkan menguras cairan tubuh para biarawan. Tahap ini dipercaya, dapat membuat tubuh lebih mudah diawetkan karena kelembaban tubuh berkurang drastis. Pada akhir tahap ini, para biarawan tampak seperti
kerangka hidup.

3. Langkah terakhir proses ini, para biarawan akan ditempatkan hidup-hidup diruang batu yang cukup besar hanya untuk seorang pria untuk duduk dalam posisi lotus (gaya sila teratai) dalam jangka waktu 1000 hari terakhir. Selama tahap akhir ini, para biarawan hanya diberikan satu tabung saluran udara kedalam gua batu dan para biarawan
setiap harinya diharuskan membunyikan lonceng pertanda masih hidup. Dan ketika lonceng akhirnya berhenti berbunyi, tabung saluran udara dikeluarkan dan gua batu ditutup untuk beberapa waktu. Dan ketika gua batu akhirnya dibuka, hasilnya akan diketahui bahwa biarawan yang menjalani proses ini sudah jadi mumi.

Budaya ini memang sangatlah terbilang sarkastis, oleh karena itu di akhir abad 19 pemerintah Jepang melarang budaya Sokushinbutsu. Meskipun demikian praktek budaya ini terus bertahan hingga abad 20.

Dikutip dari;

1. http://q-bonk.com/sokushinbutsu-budaya-paling-unik-dari-jepang/

2. http://en.wikipedia.org/wiki/Sokushinbutsu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s