Kata Bapak Gue atau Kata Hati Gue

Tulisan ini berdasarkan realita yang dialami oleh seorang teman semasa SMA dulu. (Jiah…baru juga 5 bulan lulus dari SMA hehe)

Orang tua yang baik adalah mereka yang memberikan yang terbaik untuk anak mereka, menurut ukuran yang terbaik dari si anak dan memprioritaskan
segala sesuatunya bagi si anak dengan tidak membangkit. Lebih lagi dengan tidak mengharapkan imbalan, hanya ingin melihat si anak tumbuh dengan
sehat, senyum lebar dan penuh dengan cinta...”
Anonim

Quote diatas memang sangat sesuai untuk mendeskripsikan bagaimanakah sosok orang tua (yang baik) seharusnya. Mungkin ketika anda membaca quote itu
ada deskripsi yang kurang sesuai atau berkesan berlebihan (lebay) dan anda langsung berkata dalam hati “Ah, orang tua gue enggak kayak gitu kok! Orang tua gue enggak
memberikan yang terbaik yang buat gue. Kayaknya juga rasa sayang mereka ke gue terpaksa aja deh! Berarti orang tua gue bukan orang tua yang baik dong yak?” atau mungkin ada yang
bilang seperti ini “Orang tua gue emang memberikan yang terbaik buat gue, mereka emang berkorban buat gue tapi selalu pas gue ngomong sama mereka, mereka itu selalu ngebangkit-bangkit
apa yang udah mereka perkorbankan buat gue. Mereka bilang..’untuk ngebiayain kamu kuliah itu papa sampe jual kontrakan 20 pintu papa, semua mobil papa, perhiasan mama yang mulai dari 10 gram
sampe yang segede galon aer tahu enggak?! makanya kamu jangan sampe gagal kuliah dan kalo udah kerja kembaliin semua yang udah papa korbanin buat kamu yah’..pedih enggak sih?! orang tua sama anak
sendiri begitu itungannya coba! Kalo begini mendingan mereka enggak usah korbanin apa-apa buat gue! Orang tua macem apa tuh kayak gitu!”.

Yah harus diakui memang tidak semua seindah yang seperti dikatakan oleh quote diatas menurut pandangan saya dan anda sebagai seorang anak. Perlu digaris bawahi, tidak indah menurut PANDANGAN kita sebagai anak.
Kita sebagai anak, mungkin mengetahui daftar apa sih yang seharusnya dan terbaik buat kita, apa sih yang kita mau, tetapi orang tua tidak selalu tahu apa yang kita mau dalam hidup ini sebagai anak, mereka berpikir apa yang terbaik
bagi anak mereka menurut prinsip mereka sendiri. Dan masalah terjadi ketika apa yang orang tua kita pikir sebagai yang terbaik buat kita adalah sesuatu yang sedikit atau tidak sama sekali kita sukai. Kita berpikir menurut hati nurani kita yang masih lugu yang bercampur
dengan bumbu kesenangan anak-anak, sedangkan orang tua berpikir menurut PENGALAMAN yang telah banyak mereka dapatkan. Mungkin semasa kecil, orang tua kita pernah gagal dan tak ingin kita pun menjadi gagal seperti mereka.

Orang tua tidak dapat selalu dipersalahkan hanya karena sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita, hanya karena kita tahu apa yang terbaik buat kita..hanya sekedar tahu. Dan bukan berarti kita sebagai anak tidak dapat memberikan masukan bagi orang tua apa yang
cocok di hati kita – itu gunanya komunikasi. Tetapi bagaimana kalau kita sudah berkomunikasi untuk memberi tahu kepada orang tua kita apa kebutuhan kita, tetapi orang tua kita tidak menanggapi dan memberikan “jalan lain” untuk masa depan kita, yang orang tua manapun tidak
setuju akan “jalan lain” itu. Itulah yang dialami oleh teman saya.

Semasa SMA saya memiliki seorang teman yang sudah saya kenal sejak kelas 1 (X), berinisial L. Kami berkenalan dan saya baru sadar bahwa L adalah tetangga saya yang yah meskipun jarak rumah kami tidak terlalu dekat juga. Pada kelas 1 kami berdua tidak terlalu akrab, hanya teman biasa satu kelas.
Kenaikan kelas ke kelas 2 (XI), dalam daftar nama siswa kelas saya ditempatkan, saya dan L berada dlam satu kelas, sehingga muncul keinginan untuk kami duduk berdua. Bulan demi bulan kami lewati di kelas 2, dan perlahan-lahan kami pun mulai akrab – sangat akrab, bahkan kami berdua sudah mulai saling
kunjung-mengunjungi sebagai tetangga dekat. Saya sering bermain dirumahnya, dan sebaliknya dia, sering belajar di rumah saya. Mungkin Tuhan menyatukan takdir kami sebagai seorang sahabat yang saling percaya satu sama lain, dan berlanjutlah ke kelas 3. Jadi saya dan L adalah teman sekelas 3 tahun. (Coba
bayangkan betapa bosannya saya melihat mukanya..hehe..hanya bercanda) Sampailah kami di penghujung tahun kelas 3, dalam suasana repot mencari tempat kelanjutan masa depan kami, apakah universitas ini atau itu, apakah sekolah tinggi ini atau itu atau apakah kantor ini atau itu.
Semua teman saya repot menghadapi masa repot ini, tetapi hanya saya yang tidak berbuat apa-apa. Kenapa begitu? Pada waktu itu keadaan ekonomi keluarga saya memang agak berkekurangan, karena sepeninggal almarhum ayah saya ibu tidak memiliki pekerjaan (yang menhasilkan) apapun.
Hidup saya dan ibu saya sepenuhnya ditanggung oleh kakak perempuan saya yang membuka usaha rumah pembuatan kwetiau (mie yang gepeng itu loh), yang penghasilannya harus kakak bagi untuk membiayai keempat anaknya dan kami. Tidak seberapa penghasilan kakak, tetapi masih mau memberikan
kepada kami setiap minggunya agar saya dan ibu dapat menyambung hidup. Dari keadaan itu, saya paham bahwa sudah saatnya saya berubah dewasa, mulai bekerja dan menyimpan dulu keinginan untuk kuliah. Tapi anehnya saya malah bersemangat dan tak mengeluh waktu itu.

Lain hal dari saya, L merupakan teman dari keluarga yang cukup berada, bahkan saya katakan kaya raya. L dan keluarga tinggal dirumah yang cukup mewah untuk ukuran tinggal di kampung becek, full perlengkapan dan semua disesuaikan agar penghuninya tidak usah kerja keras dan kerepotan. Setiap anggota
keluarga dewasa berhak memiliki kendaraan masing-masing. Dan setiap liburan mereka selalu punya jadwal acara yang terbaik, Bali, Jogja atau tempat yang lainnya. Yah pokoknya mereka berkecukupan.
Saya yang tahu diri ini memang sudah mengetahui bahwa kesempatan saya berkuliah harus disimpan dalam-dalam dulu dan saya awalnya juga mengira kalau L pastinya akan berkuliah di Universitas Ternama meski mungkin bukan negeri, karena saya tahu pribadi L yang berkata susah terlebih dahulu baru mencoba.
Tapi ternyata dugaan saya salah, L bilang kepada saya kalau ternyata dia hendak mengambil Akademi Kepolisian saja karena kata ayahnya dengan menjadi Polisi nantinya dapat menghemat biaya bahkan dapat menghasilkan uang, bisa dikuliahkan gratis lagi. Tapi memang konsekuensinya sangat sulit untuk diterima kalau
tidak memberi “sogokan”. Saya bertanya nah kalau gagal apa yang akan dia lakukan nanti, menganggur atau berkuliah. Dia bilang ayahnya memberikan pilihan kalau tidak diterima dia akan dipekerjakan atau dikuliahkan tetapi hanya di Universitas Kecil yang ecek-ecek, yang ketika lulus kita juga lupa apa yang sudah kita
pelajari sebelumnya. Diperkerjakan juga si L yang harus mencari sendiri. Saya kaget juga mendengar pernyataan itu, seorang dari keluarga berada nasibnya seperti itu. Ketika saya ceritakan pula ke ibu saya, ibu saya juga mengomel kecil tentang bagaimana pikiran dan hati orang tuanya padhal sama anak sendiri. Kok beli motor baru
saja bisa dibela-belain tetapi untuk kuliah anaknya saja mereka ogah.

Sampai ketika saya menulis postingan ini, nasib si L masih belum jelas. Terakhir kali saya berkomunikasi dengan dia, katanya L mau mendaftar kerja di PT ternama yang syarat masuknya harus dites 3 pelajaran yang dia tidak sukai sama sekali; matematika, fisika dan kimia. Sangat memaksakan dan tidak tahu diri. Katanya lagi, kalau tidak lulus juga
tahun depan dia akan mendaftar di Universitas yang sebelummnya ditawarkan ayahnya itu, yang ecek-ecek. Ckckck. Sungguh ironis apa yang dia alami itu, sangat tidak sesuai dengan keadaannya. Sebagai teman yang baik saya hanya dapat mendoakan yang terbaik bagi dia.
Oh iya, saat ini yang hanya berselang beberapa bulan dari kelulusan SMA, saya sedang menulis untuk materi softskill ISD, untuk mata kuliah di Universitas Gunadarma, Tuhan ternyata yang malah memberikan saya kesempatan untuk berkuliah ditempat yang bahakan biayanya hampir 5 kali lipat dibandingkan tawaran dari ayahnya si L.
Tuhan luar biasa baik dan ibu dan ayah saya yang terbaik. Tuhan memberkati anda yang bijaksana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s