2 Bata Yang Jelek

2 Bata yang Jelek – merupakan salah satu kisah pembelajaran dari para biksu yang menceritakan tentang bagaimana kita memandang suatu ketidaksempurnaan dalam hidup kita. Begini kisahnya;

Ada seorang pertapa gunung yang tinggal di suatu hutan di kaki gunung. (Perlu diketahui pertapa gunung berbeda dengan tipe pertapa gunung/biksu pada umumnya, mereka tidak tinggal di kota, tidak menerima sumbangan dari orang, mereka hanya hidup untuk menyatu dengan alam)

Suatu ketika sang pertapa ini melihat bahwa kehidupannya terkadang agak merepotkan. Ketika panas terik, dia kepanasan dan ketika hujan, dia kebasahan dan menggigil. Maka sang pertapa itu merencanakan untuk membangun suatu tempat peristirahatan yang bentuknya menyerupai kuil. Maka dia mulai mengumpulkan sejumlah bata dan perekatnya untuk membangun dinding dari kuil tersebut.

Dengan perlahan-lahan, satu demi satu dia mulai merekatkan bata per bata dengan seteliti mungkin agar tidak ada kesalahan sedikitpun dalam susunannya.
Memang membutuhkan waktu yang agak lama baginya hanya untuk menyelesaikan satu sisi dinding, tetapi terlaksana juga satu sisi dinding.
Dia sangat merasa puas dengan hasil kerjanya. Dia melihat hasil kerjanya itu berulang kali dan berdecak kagum. Terlihat sangat sempurna. Tetapi ketika dia ingin memandang hasil kerjanya untuk yang kesekian kalinya, matanya menangkap sesuatu. Dia melihat ternyata ada 2 bata yang tersusun tidak rapi, agak miring dari susunannya yang seharusnya.

Dia merasa agak kecewa, bahkan sangat kecewa akan kegagalan kecilnya itu. 2 bata itu sangat menyakiti penglihatannya. Dia sangat kecewa hingga tidak berniat melanjutkan pembangunan kuil itu.

Berselang waktu yang cukup lama, sang pertapa itu kedatangan seorang tamu kaya yang berasal dari kota hendak belajar kedamaian dari cara hidup seorang pertapa gunung. Dalam perbincangan antara pertapa dengan tamunya, sang pertapa menunjukkan dinding hasil kerjanya yang “gagal”. Dan pertapa itu mengeluhkan kembali kekecewaannya kepada tamunya, seandainya tak ada 2 bata yang jelek itu maka pekerjaan akan sempurna.
Bukannya mengiyakan keluhannya, sang tamu tersebut malah berdecak kagum akan dinding tersebut dan ingin membayar sejumlah uang untuk membeli dinding tersebut. Sang pertapa sangat heran akan tindakan tamunya itu dan menanyakan mengapa tamunya berbuat itu. Tamunya menjelaskan bahwa dinding tersebut adalah suatu karya yang hebat dan berkata” Mengapa anda hanya mempersoalkan 2 bata yang jelek itu kalau anda masih punya 98 bata yang tersusun bagus dan sempurna?” Sang pertapa itu mulai mengalihkan pandangannya ke bata lain yang telah tersusun sempurna. Dan setelah dia tidak memusatkan penglihatannya lagi ke 2 bata yang jelek itu, dia mulai menyadari bahwa pekerjaannya tidak terlalu jelek dan bahkan luar biasa. Bahkan untuk hasil kerja yang awalnya dia anggap sebagai suatu kegagalan, dibayar sebagai suatu karya yang bernilai tinggi.

Begitulah ceritanya dan pelajaran apa yang dapat anda dapatkan dari kisah ini?
Kisah ini menjelaskan bagaimana kita memandang kelebihan dan kekurangan dari diri kita ini. Pada umumnya kita sangat terganggu dengan kekurangan yang ada pada diri kita walaupun itu hanya kekurangan kecil yang tidak mengganggu hidup kita. Kita bahkan lebih sibuk hanya untuk menutupi kekurangan kita, dan malah melupakan kelebihan yang kita miliki seperti pertapa tersebut melupakan 98 bata yang bagus yang masih dia miliki.

Tuhan memberkati anda yang bijaksana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s